Advertise Box

1
Malam minggu malam yg ditunggu tunggu para remaja untuk berwakuncar…banyak remaja yg membawa pacarnya ke mall ,bukan untuk membelikan sang pacar barang mewah tapi hanya sekedar meneraktir pacar ke bioskoop atau makan di kedai makan yg jumlahnya cukup banyak di setiap mall…tapi bagaimana klo lagi jomblo seperti gw saat ini…? no problem…malam ini walaupun gw sendirian pasti gw pulang ama cewek ,paling enggak sama bispak….hehehee…tapi nasib memang lagi mujur.. saat gw menunggu empek empek yg baru gw pesen tiba tiba datang dua orang gadis remaja 17 /18 tahunan duduk di dekat meja gw…sambil cekikikan…mereka melirik ke arah gw….wah bispak neh pikir gw….yg satu berambut panjang, susunya gede banget….yg satu berambut pendek sebahu, susunya sedang sedang aja…tapi dua duanya berkulit kuning bening…dan berwajah manis…setelah berkenalan yg berambut panjang namanya yuni dan yg berambut pendek nita…mereka blom punya pacar( gleg gleg….perawankah …gleg )
Setelah makan bersama gw ajakin mereka untuk nonton film di salah satu bioskop yg ada di mall itu…dan mereka mau aja asal di bayarin….
Didalam bioskop gw duduk di tengah nita di sebelah kanan dan yuni di sebelah kiri…baru lima menit film nya di putar tangan gw mulai bergerak …jatuh di bahu mereka trus turun kebawah ,pertama tangan yg kanan meremas susu nita yg ngak terlalu besar tapi sangat kenyal…wow…nita ngak marah malah diem aja menikmati remasan gw…trus tangan kiri gw juga ngak mau kalah meremas susunya sih yuni yg besar itu….kenyal,besar..wow … yunipun ngak marah malah kayaknya ketagihan untuk diremas lebih lanjut…. akhirnya gw ngak tahan lagi gw bilang sama mereka kita keluar aja yuk…film nya ngak rame ini…. kata gw lagi dan merekapun setuju….sampai di mobil mereka bilang nita ngak bisa ikut mau pulang aja…. karena sakit perut lagi mens seh…katanya …lalu gw anterin kerumah sih nita…

tinggal si yuni neh…gw bawah ke hotel salak..di bogor…chek in….trus masuk kamar….sambil minum bier yuni menari nari depan gw…gw biarin dia minum dua botol heineken bier…trus dia mulai membuka bajunya wow…dua buah gunung mencuat kedepan di bungkus bHnya yg tipis…gw samperin dia gw remes remes lagi susunya yg mengkal itu dengan lincahnya gw buka tali bhnya …susunya yg besarpun terpampang bebas di depan mata gw …puting yg ke merahan itu gw masukin kemulut gw….dengan lidah gw gw isepin…sampai dia membesar dan mengeras…hhhsst…geli….hsst cuman itu yg keluar dari mulut yuni….trus gw prosotin roknya….cdnya …sekarang yuni terlanjang bugil…..bulu jembutnya blom begitu banyak…yg membuat kontol gw ngaceng….blom sempet gw rabah buljemnya yuni sudah berjongkok didepan gw memberikan blowjob…wow….kontol gw di pegangnya sambil lidahnya bermain di kepala kontol gw….wow…sadapppppppnya…..kelur masuk mulut yuni yg hangat diputerin lidahnya di kepala kontol gw di masukin lagi kedalam mulutnya….biji peler gw sekali sekali di ciumin..wow komplit banget..akhirnya gw ngecrot di mulutnya….sperma putih membasahi mulut yuni yg mungil itu….trus gw suruh dia rebahan di kasur….sekarang giliran gw beraksi…gw buka celahan bibir memeknya yg masih berwarna pink yg sudah mulai mengkilat oleh cairan birahinya….gw masukin lidah gw…gw cari itunya dengan lidah gw…gw jilatin itilnya sampai dia menjerit menahan orgasme…sambil tangannya meremas rambut gw….trus gw amabil posisi…gw naik ke atas ranjang …gw buka pahanya lebar lebar….gw bawah kontol gw kecelahan memeknya …gw gesek gesekin di celah celah memeknya itu…husssst…hhhssst…aaghhh…rintihan nya mulai terdengar..gw terusin sampai memeknya menjadi banjir cairan pelumas yg hangat dan bening itu….baru gw tekang ke arah lobang nya yg masih kecil itu …tapi baru sampai kepalanya saja yg masuk yuni mulai menjerit aauggh… pelan pelan ….kamu yg pertama..wah…masih perawan neh…ngak di sangka gw dpt perawan lagi….pelan pelan gw tarik kontol gw trus gw dorong lagi sampai permukaan lobangnya….akhirnya yuni bisa lagi menikmati permainan gw…dan lobangnya semakin becek dan licin…. sampai akhirnya gw ngak tahan …gw dorong semua kontol gw kedalam memek perawan yuni yg sempit itu…yuni menjerit..auughh sakit….sambil mencubit tangan gw….augh….augh…dan darah perawan yuni membasahi kontol gw….gw tarik pelahan lahan keluarlah beberapa tetes darah dari memeknya membasahi sprei rajang hotel salak…pelahan tapi pasti gw mulai mengoyangkan kontol gw…dorng masuk tarik lagi mulanya pelahan lalu semakin lama semakin cepat sampai yuni ngak merasa sakit lagi…dan memeknya semakin licin gw dorong dengan cepat kedalam keluar kedalam keluar….erangan sakit yuni berubah menjadi erangan nikmat…hhsst….trus…. yg dalem….trus…..hhssstt….gw berubah posisi menjadi seperti org berpush up…sehingga kontol gw bisa masuk kedalam semuanya…urat urat di sekitar kontol gw membuat yuni menjadi tambah nikmat…..uugh hhsst…aagh…. jeritnya…yaaay yyaaa….yuni sudah mencapai puncak kenikmatannya di susul sama gw….dua macam cairan hangat bersatu di dlam satu lobang….woow..nikmatnya……gw cabut kontol gw…bersamaan dengan keluarnya kontol gw keluar juga cairan hangat bercampur darah perawan dan sperma gw..dari memeknya…. hhmm ternyata dugaan gw salah dia bukan cewek bispak ,cuman cewek yg lagi jomblo kayak gw….yg sama sama butuh….ke esokan harinya…. gw bawah dia kerumah nita…sejak saat itu yuni dan nita menjadi temen seks gw ….kadang kadang kita main trio…..nita sampai saat ini blom gw perawanin….tunggu sampai memek yuni ngk sempit lagi baru nita gw perawanin…. saat ini cukup dengan lidah saja….ehhehheh….
0
Sudah masuk tahun ketiga aku buka praktek di sini semuanya berjalan biasa-biasa saja seperti layaknya praktek dokterr umum lainnya. Pasien bervariasi umur dan status sosialnya. Pada umumnya datang ke tempat praktekku dengan keluhan yang juga tak ada yang istimewa. Flu, radang tenggorokan, sakit perut, maag, gangguan pencernaan, dll.

Akupun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien “langganan”, artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan, ketika aku iseng memeriksa file-file pasien, aku baru menyadari bahwa 70 % pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 – 30 tahun. Entah kenapa aku kurang tahu.

“Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini membantuku.
“Ah kamu . bisa aja”
“Bener Dok” timpal Tuti, yang bertugas mengurus administrasi praktekku.

Oh ya, sehari-hari aku dibantu oleh kedua wanita itu. Mereka semua sudah menikah. Aku juga sudah menikah dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Umurku sekarang menjelang 30 tahun.
Aku juga berpegang teguh pada sumpah dan etika dokter dalam menangani para pasien. Penuh perhatian mendengarkan keluhan mereka, juga Aku tak “pelit waktu”. Mungkin faktor inilah yang membuat para ibu muda itu datang ke tempatku. Diantara mereka bahkan tidak mengeluhkan tentang penyakitnya saja, tapi juga perihal kehidupan rumah tangganya, hubungannya dengan suaminya. Aku menanggapinya secara profesional, tak ingin melibatkan secara pribadi, karena aku mencintai isteriku.
Semuanya berjalan seperti biasa, wajar, sampai suatu hari datang Ny. Syeni ke meja praktekku ..

Kuakui wanita muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, seperti pada umumnya wanita keturunan Tiong-hwa, parasnya mirip bintang film Hongkong yang aku lupa namanya, langsing, lumayan tinggi, dan …. inilah yang mencolok : dadanya begitu menonjol ke depan, membulat tegak, apalagi sore ini dia mengenakan blouse bahan kaos yang ketat bergaris horsontal kecil2 warna krem, yang makin mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya. Dipadu dengan rok mini warna coklat tua, yang membuat sepasang kakinya mulusnya makin “bersinar”.
Dari kartu pasien tertera Syeni namanya, 28 tahun umurnya.

“Kenapa Bu .” sapaku.
“Ini Dok . sesak bernafas, hidung mampet, trus perut saya mules”
“Kalau menelan sesuatu sakit engga Bu “
“Benar dok”
“Badannya panas ?”
Telapak tangannya ditempelkan ke dagunya.
“Agak anget kayanya”
Kayanya radang tenggorokan.
“Trus mulesnya . kebelakang terus engga”
“Iya Dok”
“Udah berapa kali dari pagi”
“Hmmm . dua kali”
“Ibu ingat makan apa saja kemarin ?”
“Mmm rasanya engga ada yang istimewa . makan biasa aja di rumah”
“Buah2 an ?”
“Oh ya . kemarin saya makan mangga, 2 buah”
“Coba ibu baring disitu, saya perika dulu”

Sekilas paha putih mulusnya tersingkap ketika ibu muda ini menaikkan kakinya ke dipan yang memang agak tinggi itu.
Seperti biasa, Aku akan memeriksa pernafasannya dulu. Aku sempat bingung. Bukan karena dadanya yang tetap menonjol walaupun dia berbaring, tapi seharusnya dia memakai baju yang ada kancing ditengahnya, biar aku gampang memeriksa. Kaos yang dipakainya tak berkancing.
Stetoskopku udah kupasang ke kuping
Ny. Syeni rupanya tahu kebingunganku. Dia tak kalah bingungnya.

“Hmmm gimana Bu”
“Eh .. Hmmm .. Gini aja ya Dok” katanya sambil agak ragu melepas ujung kaos yang tertutup roknya, dan menyingkap kaosnya tinggi-tinggi sampai diatas puncak bukit kembarnya. Kontan saja perutnya yang mulus dan cup Bhnya tampak.
Oohh . bukan main indahnya tubuh ibu muda ini. Perutnya yang putih mulus rata, dihiasi pusar di tengahnya dan BH cream itu nampak ketat menempel pada buah dadanya yang ampuun .. Putihnya . dan menjulang.

Sejenal aku menenangkan diri. Aku sudah biasa sebenarnya melihat dada wanita. Tapi kali ini, cara Ibu itu membuka kaos tidak biasa. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Aku tetap bersikap profesional dan memang tak ada sedikitpun niatan untuk berbuat lebih.
Kalau wanita dalam posisi berbaring, jelas dadanya akan tampak lebih rata. Tapi dada nyonya muda ini lain, belahannya tetap terbentuk, bagai lembah sungai di antara 2 bukit.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil menyingkap lagi kaosnya lebih keatas. Tak ada maksud apa-apa. Agar aku lebih leluasa memeriksa daerah dadanya.
“Engga apa-apa Dok” kata ibu itu sambil membantuku menahan kaosnya di bawah leher.

Karena kondisi daerah dadanya yang menggelembung itu dengan sendirinya stetoskop itu “harus” menempel-nempel juga ke lereng-lereng bukitnya.

“Ambil nafas Bu.”

Walaupun tanganku tak menyentuh langsung, melalui stetoskop aku dapat merasakan betapa kenyal dan padatnya payudara indah ini.
Jelas, banyak lendir di saluran pernafasannya. Ibu ini menderita radang tenggorokan.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil mulai memencet-mencet dan mengetok perutnya. Prosedur standar mendiagnosis keluhan perut mulas.
Jelas, selain mulus dan halus, perut itu kenyal dan padat juga. Kalau yang ini tanganku merasakannya langsung.
Jelas juga, gejalanya khas disentri. Penyakit yang memang sedang musim bersamaan tibanya musim buah.

“Cukup Bu .”
Syeni bangkit dan menurunkan kakinya.
“Sakit apa saya Dok” tanyanya. Pertanyaan yang biasa. Yang tidak biasa adalah Syeni masih membiarkan kaosnya tersingkap. Belahan dadanya makin tegas dengan posisnya yang duduk. Ada hal lain yang juga tak biasa. Rok mini coklatnya makin tersingkap menampakkan sepasang paha mulus putihnya, karena kakinya menjulur ke bawah menggapai-gapai sepatunya. Sungguh pemandangan yang amat indah .

“Radang tenggorokan dan disentri”
“Disentri ?” katanya sambil perlahan mulai menurunkan kaosnya.
“Benar, bu. Engga apa-apa kok. Nanti saya kasih obat” walaupun dada dan perutnya sudah tertutup, bentuk badan yang tertutup kaos ketat itu tetap sedap dipandang.
“Karena apa Dok disentri itu ?” Sepasang pahanya masih terbuka. Ah ! Kenapa aku jadi nakal begini ? Sungguh mati, baru kali ini aku “menghayati” bentuk tubuh pasienku. Apa karena pasien ini memang luar biasa indahnya ? Atau karena cara membuka pakaian yang berbeda ?

“Bisa dari bakteri yang ada di mangga yang Ibu makan kemarin” Syeni sudah turun dari pembaringan. Tinggal lutut dan kaki mulusnya yang masih “tersisa”
Oo .. ada lagi yang bisa dinikmati, goyangan pinggulnya sewaktu dia berjalan kembali ke tempat duduk. Aku baru menyadari bahwa nyonya muda ini juga pemilik sepasang bulatan pantat yang indah. Hah ! Aku makin kurang ajar. Ah engga.. Aku tak berbuat apapun. Cuma tak melewatkan pemandangan indah. Masih wajar.
Aku memberikan resep.

“Sebetulnya ada lagi Dok”
“Apa Bu, kok engga sekalian tadi” Aku sudah siap berkemas. Ini pasien terakhir.
“Maaf Dok .. Saya khawatir .. Emmm ..” Diam.
“Khawatir apa Bu “
“Tante saya kan pernah kena kangker payudara, saya khawatir .”
“Setahu saya . itu bukan penyakit keturunan” kataku memotong, udah siap2 mau pulang.
“Benar Dok”
“Ibu merasakan keluhan apa ?”
“Kalau saya ambil nafas panjang, terasa ada yang sakit di dada kanan”
“Oh . itu gangguan pernafasan karena radang itu. Ibu rasakan ada suatu benjolan engga di payudara” Tanpa disadarinya Ibu ini memegang buah dada kanannya yang benar2 montok itu.
“Saya engga tahu Dok”
“Bisa Ibu periksa sendiri. Sarari. Periksa payudara sendiri” kataku.
“Tapi saya kan engga yakin, benjolan yang kaya apa ..”

Apakah ini berarti aku harus memeriksa payudaranya ? Ah engga, bisa-bisa aku dituduh pelecehan seksual. Aku serba salah.
“Begini aja Bu, Ibu saya tunjukin cara memeriksanya, nanti bisa ibu periksa sendiri di rumah, dan laporkan hasilnya pada saya”
Aku memeragakan cara memeriksa kemungkinan ada benjolan di payudara, dengan mengambil boneka manequin sebagai model.

“Baik dok, saya akan periksa sendiri”
“Nanti kalau obatnya habis dan masih ada keluhan, ibu bisa balik lagi”
“Terima kasih Dok”
“Sama-sama Bu, selamat sore”
Wanita muda cantik dan seksi itu berlalu.

Lima hari kemudian, Ny Syeni nongol lagi di tempat praktekku, juga sebagai pasien terakhir. Kali ini ia mengenakan blouse berkancing yang juga ketat, yang juga menonjolkan buah kembarnya yang memang sempurna bentuknya, bukan kaos ketat seperti kunjungan lalu. Masih dengan rok mininya.

“Gimana Bu . udah baikan”
“Udah Dok. Kalo nelen udah engga sakit lagi”
“Perutnya ?”
“Udah enak”
“Syukurlah … Trus, apa lagi yang sakit ?”
“Itu Dok .. Hhmmm .. Kekhawatiran saya itu Dok”
“Udah diperiksa belum ..?”
“Udah sih . cuman …” Dia tak meneruskan kalimatnya.
“Cuman apa .”
“Saya engga yakin apa itu benjolan atau bukan ..”
“Memang terasa ada, gitu “
“Kayanya ada kecil . tapi ya itu . saya engga yakin”

Mendadak aku berdebar-debar. Apa benar dia minta aku yang memeriksa . ? Ah, jangan ge-er kamu.
“Maaf Dok .. Apa bisa …. Saya ingin yakin” katanya lagi setelah beberapa saat aku berdiam diri.
“Maksud Ibu, ingin saya yang periksa” kataku tiba2, seperti di luar kontrol.
“Eh .. Iya Dok” katanya sambil senyum tipis malu2. Wajahnya merona. Senyuman manis itu makin mengingatkan kepada bintang film Hongkong yang aku masih juga tak ingat namanya.
“Baiklah, kalau Ibu yang minta” Aku makin deg-degan. Ini namanya rejeki nomplok. Sebentar lagi aku akan merabai buah dada nyonya muda ini yang bulat, padat, putih dan mulus !
Oh ya . Lin Chin Shia nama bintang film itu, kalau engga salah eja.

Tanpa disuruh Syeni langsung menuju tempat periksa, duduk, mengangkat kakinya, dan langsung berbaring. Berdegup jantungku, sewaktu dia mengangkat kakinya ke pembaringan, sekilas CD-nya terlihat, hitam juga warnanya. Ah . paha itu lagi . makin membuatku nervous. Ah lagi, penisku bangun ! baru kali ini aku terangsang oleh pasien.

“Silakan dibuka kancingnya Bu”
Syeni membuka kancing bajunya, seluruh kancing ! Kembali aku menikmati pemandangan seperti yang lalu, perut dan dadanya yang tertutup BH. Kali ini warnanya hitam, sungguh kontras dengan warna kulitnya yang bak pualam.
“Dada kanan Bu ya .”
“Benar Dok”
Sambil sekuatnya menahan diri, aku menurunkan tali BH-nya. Tak urung jari2ku gemetaran juga. Gimana tidak. Membuka BH wanita cantik, seperti memulai proses fore-play saja ..
“Maaf ya Bu .” kataku sambil mulai mengurut. Tanpa membuka cup-nya, aku hanya menyelipkan kedua telapak tanganku. Wow ! bukan main padatnya buah dada wanita ini.
Mengurut pinggir-pinggir bulatan buah itu dengan gerakan berputar.

“Yang mana Bu benjolan itu ?”
“Eehh . di dekat putting Dok . sebelah kanannya .”
Aku menggeser cup Bhnya lebih kebawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu yang tampak. Makin membuatku gemetaran. Entah dia merasakan getaran jari-jariku atau engga.

“Dibuka aja ya Dok” katanya tiba2 sambil tangannya langsung ke punggung membuka kaitan Bhnya tanpa menunggu persetujuanku. Oohhh . jangan dong . Aku jadi tersiksa lho Bu, kataku dalam hati. Tapi engga apa-apa lah ..
Cup-nya mengendor. Daging bulat itu seolah terbebas. Dan .. syeni memelorotkan sendiri cup-nya …
Kini bulatan itu nampak dengan utuh. Oh indahnya … benar2 bundar bulat, putih mulus halus, dan yang membuatku tersengal, putting kecilnya berwarna pink, merah jambu !
Kuteruskan urutan dan pencetanku pada daging bulat yang menggiurkan ini. Jelas saja, sengaja atau tidak, beberapa kali jariku menyentuh putting merah jambunya itu ..
Dan .. Putting itu membesar. Walaupun kecil tapi menunjuk ke atas ! Wajar saja. Wanita kalau disentuh buah dadanya akan menegang putingnya. Wajar juga kalau nafas Syeni sedikit memburu. Yang tak wajar adalah, Syeni memejamkan mata seolah sedang dirangsang !
Memang ada sedikit benjolan di situ, tapi ini sih bukan tanda2 kangker.

“Yang mana Bu ya .” Kini aku yang kurang ajar. Pura-pura belum menemukan agar bisa terus meremasi buah dada indah ini. Penisku benar2 tegang sekarang.
“Itu Dok . coba ke kiri lagi .. Ya .itu .” katanya sambil tersengal-sengal. Jelas sekali, disengaja atau tidak, Syeni telah terrangsang .
“Oh . ini ..bukan Bu . engga apa-apa”
“Syukurlah”
“Engga apa-apa kok” kataku masih terus meremasi, mustinya sudah berhenti. Bahkan dengan nakalnya telapak tangnku mengusapi putingnya, keras ! Tapi Syeni membiarkan kenakalanku. Bahkan dia merintih, amat pelan, sambil merem ! Untung aku cepat sadar. Kulepaskan buah dadanya dari tanganku. Matanya mendadak terbuka, sekilas ada sinar kekecewaan.

‘Cukup Bu” kataku sambil mengembalikan cup ke tempatnya. Tapi …
“Sekalian Dok, diperiksa yang kiri .” Katanya sambil menggeser BH nya ke bawah. hah ? Kini sepasang buah sintal itu terbuka seluruhnya. Pemandangan yang merangsang .. Putting kirinyapun sudah tegang . Sejenak aku bimbang, kuteruskan, atau tidak. Kalau kuteruskan, ada kemungkinan aku tak bisa menahan diri lagi, keterusan dan ,,,, melanggar sumpah dokter yang selama ini kujunjung tinggi. Kalau tidak kuteruskan, berarti aku menolak keinginan pasien, dan terus terang rugi juga dong . aku kan pria tulen yang normal. Dalam kebimbangan ini tentu saja aku memelototi terus sepasang buah indah ciptaan Tuhan ini.

“Kenapa Dok ?” Pertanyaan yang mengagetkan.
“Ah .. engga apa-apa … cuman kagum” Ah ! Kata-kataku meluncur begitu saja tak terkontrol. Mulai nakal kamu ya, kataku dalam hati.
“Kagum apa Dok” Ini jelas pertanyaan yang rada nakal juga. Sudah jelas kok ditanyakan.
“Indah .” Lagi-lagi aku lepas kontrol
“Ah . dokter bisa aja .. Indah apanya Dok” Lagi-lagi pertanyaan yang tak perlu.
“Apalagi .”
“Engga kok . biasa-biasa aja” Ah mata sipit itu .. Mata yang mengundang !
“Maaf Bu ya .” kataku kemudian mengalihkan pembicaraan dan menghindari sorotan matanya.

Kuremasi dada kirinya dengan kedua belah tangan, sesuai prosedur.
Erangannya tambah keras dan sering, matanya merem-melek. Wah . ini sih engga beres nih. Dan makin engga beres, Syeni menuntun tangan kiriku untuk pindah ke dada kanannya, dan tangannya ikut meremas mengikuti gerakan tanganku .. Jelas ini bukan gerakan Sarari, tapi gerakan merangsang seksual . herannya aku nurut saja, bahkan menikmati.
Ketika rintihan Syeni makin tak terkendali, aku khawatir kalau kedua suster itu curiga. Kalaupun suster itu masuk ruangan, masih aman, karena dipan-periksa ini ditutup dengan korden. Dan . benar juga, kudengar ada orang memasuki ruang praktek. Aku langsung memberi isyarat untuk diam. Syeni kontan membisu. Lalu aku bersandiwara.

“Ambil nafas Bu ” seolah sedang memeriksa. Terdengar orang itu keluar lagi.
Tak bisa diteruskan nih, reputasiku yang baik selama ini bisa hancur.
“Udah Bu ya . tak ada tanda-tanda kangker kok”
“Dok ..” Katanya serak sambil menarik tanganku, mata terpejam dan mulut setengah terbuka. Kedua bulatan itu bergerak naik-turun mengikuti alunan nafasnya. Aku mengerti permintaanya. Aku sudah terangsang. Tapi masa aku melayani permintaan aneh pasienku? Di ruang periksa?
Gila !
Entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu bibir kami sudah beradu. Kami berciuman hebat. Bibirnya manis rasanya .
Aku sadar kembali. Melepas.

“Dok .. Please . ayolah .” Tangannya meremas celana tepat di penisku
“Ih kerasnya ..”
“Engga bisa dong Bu ..’
“Dokter udah siap gitu .”
“Iya .. memang .. Tapi masa .”
“Please dokter .. Cumbulah saya .”
Aku bukannya tak mau, kalau udah tinggi begini, siapa sih yang menolak bersetubuh dengan wanita molek begini ?
“Nanti aja . tunggu mereka pulang” Akhirnya aku larut juga .
“Saya udah engga tahan .”
“Sebentar lagi kok. Ayo, rapiin bajunya dulu. Ibu pura-pura pulang, nanti setelah mereka pergi, Ibu bisa ke sini lagi” Akhirnya aku yang engga tahan dan memberi jalan.
“Okey ..okey . Bener ya Dok”
“Bener Bu”
“Kok Ibu sih manggilnya, Syeni aja dong”
“Ya Syeni” kataku sambil mengecup pipinya.
“Ehhhhfff”
Begitu Syeni keluar ruangan, Nia masuk.
“habis Dok”
Dia langsung berberes. Rapi kembali.
“Dokter belum mau pulang ?”
“Belum. Silakan duluan”
“Baiklah, kita duluan ya”
Aku amati mereka berdua keluar, sampai hilang di kegelapan. Aku mencari-cari wanita molek itu. Sebuah baby-bens meluncur masuk, lalu parkir. Si tubuh indah itu nongol. Aku memberi kode dengan mengedipkan mata, lalu masuk ke ruang periksa, menunggu.
Syeni masuk.

“Kunci pintunya” perintahku.
Sampai di ruang periksa Syeni langsung memelukku, erat sekali.
“Dok …”
“Ya .Syeni .”
Tak perlu kata-kata lagi, bibir kami langsung berpagutan. Lidah yang lincah dan ahli menelusuri rongga-ronga mulutku. Ah wanita ini .. Benar-benar ..ehm ..
Sambil masih berpelukan, Syeni menggeser tubuhnya menuju ke pembaringan pasien, menyandarkan pinggangnya pada tepian dipan, mata sipitnya tajam menatapku, menantang. Gile bener ..
Aku tak tahan lagi, persetan dengan sumpah, kode etik dll. Dihadapanku berdiri wanita muda cantik dan sexy, dengan gaya menantang.
Kubuka kancing bajunya satu-persatu sampai seluruhnya terlepas. Tampaklah kedua gumpalan daging kenyal putih yang seakan sesak tertutup BH hitam yang tadi aku urut dan remas-remas. Kali ini gumpalan itu tampak lebih menonjol, karena posisinya tegak, tak berbaring seperti waktu aku meremasnya tadi. Benar2 mendebarkan ..
Syeni membuka blousenya sendiri hingga jatuh ke lantai. Lalu tangannya ke belakang melepas kaitan Bhnya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buah dadanya tampak makin menonjol. Aku tak tahan lagi …
Kurenggut BH hitam itu dan kubuang ke lantai, dan sepasang buah dada Syeni yang bulat, menonjol, kenyal, putih, bersih tampak seluruhnya di hadapanku. Sepasang putingnya telah mengeras. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menyerbu sepasang buah indah itu dengan mulutku.

“Ooohhh .. Maaassss ..” Syeni merintih keenakan, sekarang ia memanggilku Mas !
Aku engga tahu daging apa namanya, buah dada bulat begini kok kenyal banget, agak susah aku menggigitnya. Putingnya juga istimewa. Selain merah jambu warnanya, juga kecil, “menunjuk”, dan keras. Tampaknya, belum seorang bayipun menyentuhnya. Sjeni memang ibu muda yang belum punya anak.
“Maaaasss .. Sedaaaap ..” Rintihnya ketika aku menjilati dan mengulumi putting dadanya.
Syeni mengubah posisi bersandarnya bergeser makin ke tengah dipan dan aku mengikuti gerakannya agar mulutku tak kehilangan putting yang menggairahkan ini. Lalu, perlahan dia merebahkan tubuhnya sambil memelukku. Akupun ikut rebah dan menindih tubuhnya. Kulanjutkan meng-eksplorasi buah dada indah ini dengan mulutku, bergantian kanan dan kiri.
Tangannya yang tadi meremasi punggungku, tiba2 sekarang bergerak menolak punggungku.

“Lepas dulu dong bajunya . Mas .” kata Syeni
Aku turun dari pembaringan, langsung mencopoti pakaianku, seluruhnya. Tapi sewaktu aku mau melepas CD-ku, Syeni mencegahnya. Sambil masih duduk, tangannya mengelus-elus kepala penisku yang nongol keluar dari Cdku, membuatku makin tegang aja .. Lalu, dengan perlahan dia menurunkan CD-ku hingga lepas. Aku telah telanjang bulat dengan senjata tegak siap, di depan pasienku, nyonya muda yang cantik, sexy dan telanjang dada.

“Wow .. Bukan main ..” Katanya sambil menatap penisku.

Wah . tak adil nih, aku sudah bugil sedangkan dia masih dengan rok mininya. Kembali aku naik ke pembaringan, merebahkan tubuhnya, dan mulai melepas kaitan dan rits rok pendeknya. Perlahan pula aku menurunkan rok pendeknya. Dan …. Gila !
Waktu menarik roknya ke bawah, aku mengharapkan akan menjumpai CD hitam yang tadi sebelum memeriksa dadanya, sempat kulihat sekejap. Yang “tersaji” sekarang dihadapanku bukan CD hitam itu, meskipun sama-sama warna hitam, melainkan bulu-bulu halus tipis yang tumbuh di permukaan kewanitaan Syeni, tak merata. Bulu-bulu itu tumbuh tak begitu banyak, tapi alurnya jelas dari bagian tengah kewanitaannya ke arah pinggir. Aku makin “pusing” …
Kemana CD-nya ? Oh .. Dia udah siap menyambutku rupanya. Dan Syeni kulihat senyum tipis.

“Ada di mobil” katanya menjawab kebingunganku mencari CD hitam itu.
“Kapan melepasnya ?”
“Tadi, sebelum turun .”
Kupelorotkan roknya sampai benar2 lepas .. kini tubuh ibu muda yang putih itu seluruhnya terbuka. Ternyata di bawah rambur kelaminnya, tampak sebagian clit-nya yang berwarna merah jambu juga ! Bukan main. Dan ternyata, pahanya lebih indah kalau tampak seluruhnya begini. Putih bersih dan bulat.
Syeni lalu membuka kakinya. Clitnya makin jelas, benar, merah jambu. Aku langsung menempatkan pinggulku di antara pahanya yang membuka, merebahkan tubuhku menindihnya, dan kami berciuman lagi. Tak lama kami berpagutan, karena ..
“Maass .. Masukin Mas .. Syeni udah engga tahan lagi ..” Wah . dia maunya langsung aja. Udah ngebet benar dia rupanya. Aku bangkit. Membuka pahanya lebih lebar lagi, menempatkan kepala penisku pada clitnya yang memerah, dan mulai menekan.
“Uuuuuhhhhhh .. Sedaaaapppp ..” Rintihnya. Padahal baru kepala penisku aja yang masuk.
Aku menekan lagi.
“Ouufff .. Pelan-pelan dong Mas ..”
“Sorry …” Aku kayanya terburu-buru. Atau vagina Syeni memang sempit.
Aku coba lebih bersabar, menusuk pelan-pelan, tapi pasti … Sampai penisku tenggelam seluruhnya. Benar, vaginanya memang sempit. Gesekannya amat terasa di batang penisku. Ohh nikmatnya ..
Sprei di pembaringan buat pasien itu jadi acak2an. Dipannya berderit setiap aku melakukan gerakan menusuk.

Sadarkah kau?
Siapa yang kamu setubuhi ini?
Pasienmu dan isteri orang!
Mestinya kamu tak boleh melakukan ini.
Habis, dia sendiri yang meminta. Masa minta diperiksa buah dadanya, salah siapa dia punya buah dada yang indah ? Siapa yang minta aku merabai dan memijiti buah dadanya? Siapa yang meminta remasannya dilanjutkan walaupun aku sudah bilang tak ada benjolan ? Okey, deh. Dia semua yang meminta itu. Tapi kamu kan bisa menolaknya? Kenapa memenuhi semua permintaan yang tak wajar itu? Lagipula, kamu yang minta dia supaya datang lagi setelah para pegawaimu pulang . Okey deh, aku yang minta dia datang lagi. Tapi kan siapa yang tahan melihat wanita muda molek ini telanjang di depan kita dan minta disetubuhi?

Begitulah, aku berdialog dengan diriku sendiri, sambil terus menggenjot memompa di atas tubuh telanjangnya … sampai saatnya tiba. Saatnya mempercepat pompaan. Saatnya puncak hubungan seks hampir tiba. Dan tentu saja saatnya mencabut penis untuk dikeluarkan di perutnya, menjaga hal-hal yang lebih buruk lagi.
Tapi kaki Syeni menjepitku, menahan aku mencabut penisku.
Karena memang aku tak mampu menahan lagi .. Creetttttttt………..Kesempr otkan kuat-kuat air maniku ke dalam tubuhnya, ke dalam vagina Syeni, sambil mengejang dan mendenyut ….
Lalu aku rebah lemas di atas tubuhnya.
Tubuh yang amat basah oleh keringatnya, dan keringatku juga. …
Oh .. Baru kali ini aku menyetubuhi pasienku.
Pasien yang memiliki vagina yang “legit” ..

Aku masih lemas menindihnya ketika handphone Syeni yang disimpan di tasnya berbunyi. Wajah Syeni mendadak memucat. Dengan agak gugup memintaku untuk mencabut, lalu meraih Hpnya sambil memberi kode supaya aku diam. Memegang HP berdiri agak menjauh membelakangiku, masih bugil, dan bicara agak berbisik. Aku tak bisa jelas mendengar percakapannya. Lucu juga tampaknya, orang menelepon sambil telanjang bulat ! Kuperhatikan tubuhnya dari belakang. Memang bentuk tubuh yang ideal, bentuk tubuh mirip gitar spanyol.
“Siapa Syen” tanyaku.
“Koko, Suamiku” Oh .. Mendadak aku merasa bersalah.
“Curiga ya dia”
“Ah .engga .” katanya sambil menghambur ke tubuhku.
“Syeni bilang, masih belum dapat giliran, nunggu 2 orang lagi” lanjutnya.
“Suamimu tahu kamu ke sini”
“Iya dong, memang Syeni mau ke dokter” Tiba2 dia memelukku erat2.
“Terima kasih ya Mas … nikmat sekali .. Syeni puas”
“Ah masa .. “
“Iya bener .. Mas hebat mainnya .”
“Ah . engga usah basa basi”
“Bener Mas .. Malah Syeni mau lagi .”
“Ah .udahlah, kita berberes, tuh ditunggu ama suamimu”
“Lain kali Syeni mau lagi ya Mas”
“Gimana nanti aja .. Entar jadi lagi”
“Jangan khawatir, Syeni pakai IUD kok” Inilah jawaban yang kuinginkan.
“Oh ya ..?”
“Si Koko belum pengin punya anak”

Kami berberes. Syeni memungut BH dan blouse-nya yang tergeletak di lantai, terus mengenakan blousenya, bukan BH-nya dulu. Ternyata BH-nya dimasukkan ke tas tangan.
“Kok BH-nya engga dipakai ?”
“Entar aja deh di rumah”
“Entar curiga lho, suamimu”
“Ah, dia pulangnya malem kok, tadi nelepon dari kantor”
Dia mengancing blousenya satu-persatu, baru memungut roknya. Sexy banget wanita muda yang baru saja aku setubuhi ini. Blose ketatnya membentuk sepasang bulatan dada yang tanpa BH. Bauh dada itu berguncang ketika dia mengenakan rok mini-nya. Aku terrangsang lagi … Cara Syeni mengenakan rok sambil sedikit bergoyang sexy sekali. Apalagi aku tahu di balik blouse itu tak ada penghalang lagi.

“Kok ngliatin aja, pakai dong bajunya”
“Habis . kamu sexy banget sih …”
“Ah .. masa .. Kok bajunya belum dipakai ?”
“Entar ajalah . mau mandi dulu .”
Selesai berpakaian, Syeni memelukku yang masih bugil erat2 sampai bungkahan daging dadanya terasa terjepit di dadaku.
“Syeni pulang dulu ya Yang . kapan-kapan Syeni mau lagi ya .”
“Iya .. deh . siapa yang bisa menolak..” Tapi, kenapa nih .. Penisku kok bangun lagi.
“Eh .. Bangun lagi ya ..” Syeni ternyata menyadarinya.
Aku tak menjawab, hanya balas memeluknya.
“Mas mau lagi .?”
“Ah . kamu kan ditunggu suami kamu”
“Masih ada waktu kok …” katanya mulai menciumi wajahku.
“Udah malam Syen, lain waktu aja”

Syani tak menjawab, malah meremasi penisku yang udah tegang. Lalu dituntunnya aku menuju meja kerjaku. Disingkirkannya benda2 yang ada di meja, lalu aku didudukkan di meja, mendorongku hingga punggungku rebah di meja. Lalu Syeni naik ke atas meja, melangkahi tubuhku, menyingkap rok mininya, memegang penisku dan diarahkan ke liang vaginanya, terus Syeni menekan ke bawah duduk di tubuhku. ..
Penisku langsung menerobos vaginanya ..
Syeni bergoyang bagai naik kuda .
Sekali lagi kami bersetubuh .
Kali ini Syeni mampu menccapai klimaks, beberapa detik sebelum aku menyemprotkan vaginanya dengan air maniku …
Lalu dia rebah menindih tubuhku .. Lemas lunglai.

“Kapan-kapan ke rumahku ya … kita main di sana ..” Katanya sebelum pergi.
“Ngaco . suamimu .?”
“Kalo dia sedang engga ada dong ..”
Baiklah, kutunggu undanganmu.
Sejak “peristiwa Syeni” itu, aku jadi makin menikmati pekerjaanku. Menjelajahi dada wanita dengan stetoskop membuatku jadi “syur”, padahal sebelum itu, merupakan pekerjaan yang membosankan. Apalagi ibu-ibu muda yang menjadi pasienku makin banyak saja dan banyak di antaranya yang sexy . …
0
Namaku Mona, umurku 24 tahun, aku sudah menikah dan mempunyai satu anak lelaki.. Berikut cerita panas ini aku ingin berbagi pengalamantentang hubunganku dengan adik kandungku sendiri.

Kejadian ini terjadi dua tahun yang lalu ketika aku berusia 22
tahun dan adikku berusia 18 tahun.

Kami adalah 3 bersaudara, kakakku Diana telah menikah dan ikut
suaminya, sedangkan aku dan adikku tinggal bersama orang tua
kami. Aku sendiri berperawakan sedang, tinggiku 160cm berat
badan 52kg, orang bilang aku montok, terutama pada bagian
pinggul/pantat. Payudaraku termasuk rata2 34 saja. Kulitku
yang putih selalu menjadi perhatian orang2 bila sedang
berjalan keluar rumah.

Aku mempunyai seorang pacar berusia 2 tahun diatasku, dia
adalah kakak kelas kuliahku. Aku dan pacarku berpacaran sudah
2 tahun lebih, dan selama itu paling jauh kami hanya melakukan
petting, sailng raba, saling cium dan saling hisap…..

Pacarku sangat ingin menerobos vaginaku jika saat petting,
tapi aku sendiri tidak ingin hal itu terjadi sebelum kami
menikah, jadi aku mengeluarkan air maninya dengan cara
swalayan, yaitu mengocok kontolnya. Aku juga kerap dipaksa
menghisap kontol pacarku yang mana sebenernya aku agak jijik
melakukannya.

Keseringan petting dengan pacarku membuatku menjadi haus akan
belaian lelaki dan selalu iingin disentuh, sehari saja tidak
dibelai rasanya tersiksa sekali… entah kenapa aku jadi
ketagihan… Sampai akhirnya kau sendiri melakukannya dengan
tanganku sendiri dikamarku sendiri. Sering aku meraba-raba
payudaraku sendiri dan mengusap-usap memeku sendiri sampai aku
orgasme.

Inilah kesalahan ku, aku tidak menyadari kalau selama ini
adikku John sering mengintip aku… ini aku ketahui setelah
dia mengakuinya saat berhasil membobol keperawananku, kakaknya
sendiri.

Awal mulanya, ketika itu aku, mamaku dan adikku John pergi ke
supermarket 500m dekat rumah. Karena belanjaan kami banyak
maka kami memutuskan untuk naik becak. Saat itu aku memakai
celana panjang ketat setengah lutut, dan karena kami hanya
naik satu becak, aku memutuskan untuk di pangku adikku,
sedangkan mamaku memangku belanjaan. Diperjalanan yang hanya
500m itu, ketika aku duduk di pangkuan adikku, aku merasakan
sesuatu bergerak-gerak dipantatku, aku sadar bahwa itu kontol
adikku, keras sekali dan berada di belahan pantatku. Aku
membiarkannya, karena memang tidak ada yang bisa kulakukan.
Bahkan ketika di jalan yang jelek, semakin terasa ganjalan
dipantatku. Karena aku juga sangat rindu belaian pacarku yang
sudah 3 hari tidak ke rumah, diam diam aku menikmatinya.

Sejak kejadian itu, aku sering melihat dia memperhatikan
tubuhku, agak risi aku diperhatikan adikku sendiri, tapi aku
berusaha bersikap biasa.

Suatu hari, aku dan pacarku melakukan petting di kamarku…
Aku sangat terangsang sekali… dia meraba dan membelai-belai
tubuhku. Sampai akhirnya pacarku memaksakku membuka celana
dalamku dan memaksaku untuk mengijinkannya memasukkan
kontolnya ke memekku. Tentu saja aku keberatan, walaupun aku
sangat terangsang tapi aku berusaha untuk mempertahankan
keperawananku. Dalam ketelajanganku aku memohon padanya untuk
tidak melakukannya. Dan anehnya aku malah berteriak minta
tolong. Hal ini di dengar oleh adikku John, dia langsung
menerobos kamarku dan mengusirnya, saat itu juga pacarku
ketakutan, karena memang badan adikku jauh lebih besar. Aku
lansung menutupi tubuhku yang telanjang dan aku yakin adikku
melihat ketelajanganku. Dan pacarku sendiri langsung memakai
pakaiannya dan pamit pulang.

Sejak itu, pacarku jadi jarang ke rumah. Dari selentingan
teman-teman ku, pacarku katanya mempunyai teman cewe lain yang
sering jalan dengannya. Tentu saja aku sedih mendengarnya,
tapi aku juga merasa beruntung tidak ternodai olehnya.

Suatu malam aku berbincang-bincang dengan adikku, aku
berterima kasih padanya karena dia telah menggagalkan pacarku
menodaiku. Aku kaget ketika adikku ngomong bahwa, aku ngga
bisa menyalahkan pacarku karena memang bodyku sexy sekali dan
setiap laki-laki pasti ingin merasakan tubuhku. Ketika
kutanya, jika setiap lelaki, apakah adikku juga ingin
merasakan tubuhku juga… dia menjawab:

“Kalau kakak bukan kakakku, ya aku juga pengen, aku kan juga
lelaki” aku sangat kaget mendengar jawabannya tapi aku
berusaha itu adalah pernyataan biasa, aku langsung aja tembak,
“emang adik pernah nyobain cewe?” dia bilang “ya, belum
kak”…. itulah percakapan awal bencana itu.

Malam harinya aku membayangkan bercinta dengan pacarku, kau
merindukan belaiannya… lalu aku mulai meraba-raba tubuhku
sendiri… tapi aku tetap tidak bisa mencapai apa yang aku
inginkan… sekilas aku membayangkan adikku… lalu aku
memutuskan untuk mengintip ke kamarnya… Malam itu aku
mengendap-endap dan perlahan-lahan nak keatas kursi dan dari
lubang angin aku mengintip adikku sendiri, aku sangat kaget
sekali ketika melihat adikku dalam keadaan tak memakai celana
dan sedang memegan alat vitalnya sendiri, dia melakukan onani,
aku terkesima melihat ukuran kontolnya, hampir 2 kali pacarku,
gila kupikir, kok bisa yah sebesar itu punya adikku… Dan
yang lebih kaget, di puncak orgasmenya dia meneriakkan
namaku… Saat itu perasaanku bercampur baur antar nafsu dan
marah… aku langsung balik kekamarku dan membayangkan apa
yang baru saja aku saksikan.

Pagi harinya, libidoku sangat tinggi sekali, ingin dipuaskan
adikku tidak mungkin, maka aku memutuskan untuk mendatangi
pacarku. Pagi itu aku langsung kerumah pacarku dan kulihat dia
sangat senang aku dating… ditariknya aku ke kamarnya dan kami
langsung bercumbu… saling cium saling hisap dan
perlahan-lahan baju kami lepas satu demi satu sampai akhirnya
kami telanjang bulat. Gilanya begitu aku melihat kontolnya,
aku terbayang kontol adikku yang jauh lebih besar darinya…
sepert biasa dia menyuruhku menghisap kontolnya, dengan
terpaksa aku melakukannya, dia merintih-rintih keenakkan dan
mungkin karena hampir orgasme dia menarik kepalaku.
“Jangan diterusin, aku bisa keluar katanya” lalu dia mula
menindihi ku dan dari nafasnya yang memburu kontolnya
mencari-cari lubang memekku… begitu unjung kontolnya nempel
dan baru setengah kepalanya masuk, aku kaget karena dia sudah
langsung orgasme, air maninya belepotan diatas memekku…
“Ohhhhh…” katanya.

Dia memelukku dan minta maaf karena gagal melakukan penetrasi
ke memekku. Tentu saja aku sangat kecewa, karena libidoku
masih sangat tinggi.
“Puaskan aku dong… aku kan belum…” rengekku tanpa
malu-malu. Tapi jawabannya sangat menyakitkanku…
“Maaf, aku harus buru-buru ada janji dengan sisca” katanya
tanpa ada rasa ngga enak sedikitpun. Aku menyembunyikan
kedongkolanku dan buru-buru berpakaian dan kami berpisah
ketika keluar dari rumahnya.

Diperjalanan pulang aku sangat kesal dan timbul kenginanku
untuk menyeleweng, apalagi selama diperjalanan banyak sekali
lelaki yang mengodaku dar tukang becak, kuli bangunan sampai
setiap orang di bis.

Begitu sampai rumah aku memergoki adikku yang akan pergi ke
sport club, dia mengajakku untuk ikut dan aku langsung
menyanguppinya karena memang aku juga ingin melepaskan
libidoku dengan cara berolah raga.

Di tempat sport club, kam berolah raga dari senam sampai
berenang dan puncaknya kami mandi sauna. Karena sport club
tersebut sangat sepi, maka aku minta adikku satu kamar
denganku saat sauna. Saat didalam adikku bilang “kak, baju
renangnya ganti tuh, kan kalau tertutup gitu keringatnya ngga
keluar, percuma sauna”

“Abis pake apa” timpalku, “aku ngga punya baju lagi”

“Pake celana dalem sam BH aja kak, supaya pori-porinya kebuka”
katanya

Pikirku, bener juga apa katanya, aku langsung keluar dan
menganti baju renangku dengan BH dan celana dalam, sialnya aku
memakai celana dalam G-string putih sehabis dari rumah pacarku
tadi… Tapi “ah, cuek aja.. toh adikku pernah liat aku
telanjang juga”.

Begitu aku masuk, adikku terkesima dengan penampilanku yang
sangat berani… kulihat dia berkali-kali menelan ludah, aku
pura-pura acuh dan langsung duduk dan menikmati panasnya
sauna. Keringat mencucur dari tubuhku, dan hal itu membuat
segalanya tercetak didalam BH dan celana dalamku… adikku
terus memandang tubuhku dan ketka kulihat kontolnya, aku
sangat kaget, dan mengingatkanku ke hal semalam ketika adikku
onani dan yang membuat libidoku malah memuncak adalah kepala
kontolnya muncul diatas celana renangnya.

Aku berusaha untuk tidak melihat, tapi mataku selau melirik ke
bagian itu, dan nafasku semakin memburu dan kulihat adikku
melihat kegelisahanku. Aku juga membayangkan kejadian tadi
pagi bersama pacarku, aku kecewa dan ingin pelampiasan.

Dalam kediaman itu aku tidak mampu untuk bertahan lagi dan aku
memulainya dengan berkata:

“Ngga kesempitan tuh celana, sampe nongol gitu”

“Ia nih, si otong ngga bisa diajak kompromi kalo liat cewe
bahenol” katanya

“Kasian amat tuh, kejepit. Buka aja dari pada kecekik” kataku
lebih berani

“Iya yah…” katanya sambil berdiri dan membuka celananya…

Aku sangat berdebar-debar dan berkali-kali menggigit bibirku
melihat batang kemaluan adikku yang begitu besar.

Tiba-tiba adikku mematikan mesin saunanya dan kembali ke
tempatnya.

“Kenapa dimatiin” kataku

“Udah cukup panas kak” katanya

Memang saat juga aku merasa sudah cukup panas, dan dia kembali
duduk, kami saling memandang tubuh masing-masing. Tiba-tiba
cairan di memekku meleleh dan gatal menyelimuti dinding
memekku, apalagi melihat kontol adikku.

Akal warasku datang dan aku langsung berdiri dan hendak
keluar, tapi adikku malah mencegahku “nanti kak”.

“Kan udah saunanya ” timpalku, aku sangat kaget dia berada
tepat di depanku dengan kontol mengacung ke arahku, antara
takut dan ingin.

“Kakak udah pernah gituan belum kak” kata adikku

“Belum” kataku, “emang kamu udah..?” lanjutku

“Belum juga kak, tapi pengen nyoba” katanya

“Nyoba gimana???? Nantikan juga ada saatnya” kataku berbalik
kearah pintu dan sialnya kunci lokerku jatuh, ketika aku
memungutnya, otomatis aku menunggingi adikku dan buah pantatku
yang besar menempel di kontolnya.

Gilanya aku malah tetap diposisi itu dan menengok ke arah
adikku. Dan tak kusangka adikku memegang pinggulku dan
menempelkan kontolnya dibelahan pantatku yang hanya tertutup
G-string.

“Oh kak…. bahenol sekali, aku pengen nyobain kak” katanya
dengan nafas memburu.

“Aw… dik ngapain kamu” timpalku tanpa berusaha merubah
posisiku, karena memang aku juga menginginkannya.

“Pengen ngentot kakak” katanya kasar sambil menekan batangnya
kepantatku.

Aku menarik pantatku dan berdiri membelakanginya, “Aku kan
kakakm John, inget dong”

Adikku tetap memegang pinggulku “tolong kak.. asal nempel
aja.. nga usah dimasukkin, aku ngga tahan banget”

“Tolong kak,” katanya memelas. Aku di suruh nagpain juga mau
kak, asal bisa nempelin aja ke memek kakak”.

Pikiranku buntu, aku juga punya libido yang tak tertuntaskan
tadi pagi.. dan membayangkan pacarku menunggangi sisca,
libidoku tambah naik..
“Persetan dengan pacar brengsek” batinku.

“Jangan disini” pintaku.

“Sebentar aja kak, asal nempel aja 1 menit” katanya meremas
pinggulku.

“Kakak belum siap” kataku.

“Kakak nungging aja, nanti aku panasin” katanya.

Bagai terhipnotis aku menuruti apa katanya, sambil memegang
grendel pintu, aku menungginginya dan dengam pelan-pelan dia
membuka G-stringku dan melemparkannya. Dan dia jongkok di
belakangku dan gilanya dia menjulurkan lidahnya menjilat
memeku dari belakang…

“Oh… ngapain kamu dik…” kataku tanpa melarangnya.

Dia terus menjulurkan lidah dan menjilati memekku dari
belakang.. ohhhh… gila pikirku… enak banget, pacarku saja
ngga mau ngejilatin memekku, adikku sendiri dengan rakus
menjilati memekku

“Gila kamu dik, enak banget, belajar dimana” rintihku… Tanpa
menjawab dia terus menjilati memekku dan meremas remas
bokongku sampai akhirnya lama-lama memekku basah sekali dan
bagian dalam memekku gatal sekali…

Tiba-tiba dia berdiri dan memegang pinggulku..
“Udah panas kak” katanya mengarahkan kontolnya kepantatku dan
memukul-mukul kepala kontolnya kepantatku….

“udah….” kataku sambil terus menungging dan menoleh ke arah
adikku…

“Jangan bilang siapa-siapa yah dik” kataku.

Adikku berusaha mencari lubang memekku dengan kepala kontolnya
yang besar… dia kesulitan…

“Mana lubangnya kak..” katanya.

Tanpa sadar aku menjulurkan tangan kananku dan menggengam
kontolnya dan menuntun ke mulut goaku…

“Ini dik” kataku begitu tepat di depannya, “gesek-gesek aja
yah dik”.

“Masukin dikit aja kak” katanya menekan kontolnya.

“aw… dik, gede banget sih” kataku, “pelan-pelan….”.

Begitu kepala kontolnya membuka jalan masuk ke memekku, adikku
pelan-pelan menekannya.. dan mengeluarkannya lagi sedikit
sedikit… tapi tidak sampai lepas… terus ia lakukan sampai
membuat aku gemas….

“Oh.. dik…. enak…. dik…. udah yah…” kataku
pura-pura…..

“Belum kak…. baru kepalanya udah enak yah….”

“Memang bisa lebih enak…???” kataku menantang.

Dan…. langsung menarik pinggulku sehingga batang kontolnya
yang besar amblas ditelan memekku”

Aku merasakan perih luar biasa dan “aw…. sakit dik…”
teriakku.

Adikku menahan batangnya didalam memekku ….
“Oh…kak…nikmat banget…..” dan secara perlahan dia
menariknya keluar dan memasukannya lagi, sungguh sensasi luar
biasa. Aku merasakan nikmat yang teramat sangat, begitu juga
adikku…

“Oh, kak… nikmat banget memekmu..” katanya.

“Ssssshhhh… ia dik… enak banget” kataku.

Lima belas menit dia mengenjotku, sampai akhirnya aku
merasakan orgasme yang sangat panjang dan nikmat disusul
erangan adkku sambil menggengam pinggulku agar penetrasinya
maksimum.

“Oh.. kak.. aku keluar.. nikmat banget…” katanya

Sejenak dia memelukku dari belakang, dan mulai mencabut
kontolnya di memekku…

“Ma kasih kak” katanya tanpa dosa dan memakaikan celanaku
lagi. Aku bingung bercampur menyesal dan ingin menangis.
Akulangsung keluar dan membersihkan diri sambil menyesali
diri.. “kenapa adikku????”

Dalam perjalanan pulang adikku berulang-ulang minta maaf atas
perbuatannya di ruangan sauna… Aku hanya bisa berdiam
merenungi diriku yang sudah tidak perawan lagi…

Kejadian itu adalah awal petualangan aku dan adikku, Karena
dua hari setelah itu kembali kami besetubuh, bahkan lebih gila
lagi.. kami bisa melakukannya sehari 3 sampai 5 kali sehari
semalam.

Satahun sudah aku di tunggangi adikku sendiri sampai ada
seorang kaya, kenalan bapakku melamarku, dan kami menikah.
Untungnya suamiku tidak mempermasalahkan keperawananku.

Akhirnya aku di karunia seorang anak dari suamiku, bukan dari
adikku.. karena aku selalu menjaga jangan sampai hamil bila
bersetubuh dengan adikku.

Sampai sekarang aku tidak bisa menghentikan perbuatanku dengan
adikku, yang pertama adikku selalu meminta jatah, dilain pihak
aku juga sangat ketagihan permainan seks
0
Jam 1.30 kira2 kita mulai makan siang dan di tengah acara baru tampak Wian dan dua temannya keluar dari kamar, rupanya baru bangun. Mereka langsung cuci muka dan ikut makan bareng kita. Jam 3 aku ajak Rani ke sungai untuk ngobrol dan kita duduk di batu besar dekat pohon pisang. Kita ngobrol ngelanjutin omongan tadi soal gaya pacaran Rani dengan cowocnya.
“Ran… boleh ngga’ aku nyobain cara kamu kalo mainin cowoc loe?” tanyaku.
“Tadi khan udah” jawab Rani.
“Itu Ran yang pake dijepit segala” kataku lagi.
Tanpa menjawab tangan Rani mulai bergerilya ke permukaan celana pendekku. Dielusnya perlahan dari kepala, batang sampe ke bijinya dan sesekali menyusup di antara kedua pahaku. Setelah beberapa lama meriamku mulai menegang dan Rani mulai meremas-remas gemas… dia mulai menyusupkan jemarinya lewat lobang bawah, di sela paha kananku, dan siapun mulai berjongkok hingga pantatnya terendam air, terus karena mungkin dia merasa repot maka celana pendekku berikut CDku ditariknya sekaligus. Dia mulai lagi mengurut meriamku… ach… nikmatnya, mana yang ngocokin cewec kece banget lagi… dan aku mulai berpikir, ini anak terlalu sempurna untuk sebuah kenyataan, aku harus berhasil memilikinya dan sekaligus membawanya ke tempat tidur (jelasnya ya dientot).
Sementara pikiranku melayang jauh… rasa di selangkanganku mulai mengayun seirama tingginya nafsuku dan Rani mulai menjulurkan lidahnya perlahan dia jilat bijiku dan lidahnya menari berputar di sekitar bijiku, aku pandang wajahnya… aduh cantik banget ini cewec… aku ngga’ habis2nya memuji dalam hati, dan di antara desahku aku makinmembulatkan tekadku untuk memilikinya, tapi gimana caranya? Aku elus rambutnya yang rada2 coklat (bukan pirang), dia mendongak dan tersenyum manis sekali, kini aku merasakan kocokannya makin cepat dan makin cepat seirama dengan nafsuku yang kian menggelora…
“Aduh Ran… enak sekali… ngga’ kuat rasanya nahan lama2″ kataku di antara eranganku.
“Kalo mo keluar bilang ya” pesannya.
Seiring dengan kocokannya yang makin cepat, jilatannyapun kini telah merambah sampai setengah batang meriamku dan sesekali diselingi dengan gigitan kecil… tak lama kemudian…
“Ran… aku mo keluar” teriakku tertahan, takut di dengar orang lain.
Dengan sigap Rani mencaplok kepala meriamku dan menyemburlah laharku menyirami rongga mulutnya yang mungil. Aku mengejang di atas batu besar dekat pohon pisang… dan Rani menghisap habis sisa laharku dan diakhiri dengan jilatan pada lobang penisku…
“Nikmat sekali Bang…” komentarnya setelah melahap habis spermaku yang kutumpahkan.
“Ran… kita berenang yuk” ajakku setelah kami istirahat sejenak.
Rani mulai melolosi pakaiannya dan berendam, akupun tidak mau ketinggalan dan kami sama2 berenang telanjang bulat menuju ke arah sungai yang lebih dalam, lama juga kami berenang berduaan di situ, lokasinya sekitar 20 meter dari tempat kami meletakkan pakaian, tapi posisi sungai yang menikung menyebabkan kami tidak dapat melihat pohon pisang di mana aku dan Rani meletakkan pakaian kami.
Tiba-tiba kami dikagetkan dengan munculnya Resti dari dalam air yang disusul oleh Wian… ternyata mereka menyelam dari arah batu sampe ke tempatku berenang… dan aku lihat Vina hanya dengan bikini ditutup kain Bali sebatas pinggang menyusur jalan di tepian sungai dan di belakangnya aku lihat Ratna.
“Ayo kita renang rame2″ ajakku.
Dan merekapun ikut menanggalkan pakaiannya… jadilah kita berenam berenang bugil total… pemandangan ini kalo dilihat dari atas bener2 kaya di taman Firdaus kali ya? Mana pemandangan indah, cewec dan cowoc pada bugil… pokoknya asyik punya dech saat itu. Aku menyelam mendekati dasar sungai dan melewati kaki2 mulus… dari situ aku bisa melihat body mulus milik Vina, Resti, Rani dan Ratna juga… melihat pinggul Rani aku jadi terangsang… pinggulnya cukup gede dan putih bersih… mana bulunya masih sangat jarang lagi… karena nafasku mulai habis, aku menyembul ke permukaan pas di depan Rani… saat menyembul mukaku hampir saja menyentuh dadanya yang super besar itu… Rani sedikit kaget karena aku terlalu dekat. Aku pegang pundak Rani dan mendorongnya rebah di air… Rani mulai tenggelam dengan posisi tengadah dan aku berusaha renang di atas tubuhnya, otomastis meriamku menyapu mulai paha sampai ke dada Rani… dengan sigap Rani merusaha meraih meriamku yang melintas di depan wajahnya… membuatku oleng… dan aku berenang menukik ke bawah, sesaat kemudian kami sama2 keluar kepermukaan dan posisi kami saling berhadapan, Rani masih menggenggam meriamku dengan sedikit meremasnya… tiba2 Vina berenang ke arah kami dan menerobos di antara aku dan Rani… setelah itu dia keluar kepermukaan untuk mengambil nafas lalu kembali menyelam… kali ini hanya berjongkok di depanku dan aku merasakan ada yang menggenggam meriamku kembali, belum aku sempat menoleh ke bawah, aku telah merasakan meriamku tersedot-sedot… ternyata Vina sedang menghisap meriamku dari dalam air… aduh… enak sekali rasanya… tak lama Vina muncul lagi kepermukaan dan bilang “Enak Joss?”, belum sempat aku menjawab, dia telah masuk ke air lagi dan mulai menghisap lagi… sebentar kemudian dia keluar lagi… “Ran… pinjem Jossy bentar ya” katanya permisi pada Rani. Tanpa menanti jawaban dari yang ditanya, tau2 dia telah berdiri di depanku dengan menggenggam meriamku dan dijepitkannya di antara kedua pahanya. Ternyata tidak cuman itu… dia berusaha memasukkan meriamku ke dalam liang vaginanya… dan setelah beberapa kali berusaha, akhirnya masuk juga meriamku dalam liang Vina… dan kami saling berciuman aku mulai menggoyang perlahan maju mundur.
Setelah beberapa saat Vina mengajakku untuk pindah ke tepi sungai, dekat batu yang cukup besar, di mana air hanya sampai di lutut, di situ Vina menunggingkan pantatnya dan minta aku tusuk dari belakang, dengan kaki kananku bertumpu di atas batu dan kaki kiriku terendam air, aku mulai mengarahkan meriamku ke liang kehangatan Vina yang tampang menganga merah jambu… sebelum mulai masuk, aku bilas dulu meriamku dengan air sungai yang cukup dingin…
Aku pegang pinggul Vina dan mengayun pinggulku dengan irama yang teratur… sesekali aku pindahkan tanganku untuk meremas dadanya… beberapa lama kemudian aku dengar nafas Vina mulai memburu dan makin menderu seirama dengan makin kerasnya tempo ayunanku… kemudian Vina mulai mengerang dan aku rasakan ada dua nafas yang memburu bersahutan, satu Vina tapi satunya lagi bukan aku, aku menoleh ke asal suara yang ada di belakangku, rupanya aku lihat Rani sedang menggosok-gosokkan jarinya di antara selangkangannya… dengan sedikit membungkuk dan wajah yang merintih, aku jadi makin bersemangat dan membayangkan Vina yang sedang kukerjai ini adalah Rani… beberapa detik kemudian bobollah pertahananku menyusul Vina….
Rani rupanya belum juga selesai dengan menggosok-gosoknya… dia pindah duduk dekat batu besar di mana aku baru bermain dengan Vina. “Bang… tolong donk” pintanya memelas.
Akupun sadar, tapi bagaimana aku baru keluar dan Rani masih perawan, jadi dengan membungkuk (berjongkok) aku mencium dan menjilati vagina Rani, tubuhku terendam sepinggang karena posisiku yang berjongkok dipinggiran sungai.Rani rebahan di batu besar, sedang Vina rebahan di sebelah Rani. Aku julurkan lidahku menyapu permukaan bibir vertikal Rani… aku mainkan dengan cepat pas di permukaan kacangnya… Rani mengerang hebat, makin ganas aku mainkan lidahku dengan menyelingi sedotan pada kacang Rani itu… rasa asin2 asyik.
Ranipun mengejang pada akhirnya. Aku duduk di dasar sungai sampai sebatas dada dan bersandar pada batu besar itu. Kepalaku aku sandarkan di batu di antara betis Rani yang terjuntai ke bawah, lalu Vinapun menyusul duduk di sisiku dengan merebahkan kepalanya di pundakku. Aku coba untuk memejamkan mata dan meresapi arti nikmat yang baru kudapat. Sambil menikmati sisa2 kenikmatan serta lelah, aku dengan mata masih terpejam, mulai memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan untuk nanti malam.
Jam 7.20 malam itu setelah selesai makan dalam kegelapan, karena kalo pas hari Nyepi di Bali khan tidak boleh nyalakan lampu, api dan segala sejenisnya. Emang sich kita makannya dari jam 6 lebih dan selesainya sekitar jam 7an jadi masih ada sinar dikit, karena sunset di Bali sekitar jam 6.30 – 6.45 WITA. Malam itu sepertinya juga gerhana bulan jadi ngga’ ada bulan nampak… gelap banget jadinya apa lagi di Ubud… di mana kalian tau sendiri seperti apa lokasinya… pokoknya gelap banget dech. Kita semua duduk2 di teras belakang menghadap ke sungai di bawah sana yang saat itu sudah tidak tampak lagi karena gelapnya. Iseng2 aku ajak mereka jalan2 menyusuri sungai sambil patroli, dari pada iseng di rumah nganggur.
“Boleh aja, tapi gua ganti celana panjang dan pake mantel dulu ya” sahut Vina.
“Iya… gua juga mo ganti pakean dulu” susul Resti.
Kita siap ke sungai sekitar jam 7.45an… kali ini kita ke arah kiri dari belakang rumah, kalo tadi siang kita ke arah kanan rumah. Kita berjalan beriringan, selain jalannya sempit kita jalannya nerobos kebun orang. Jauh juga kita berjalan dan terkadang kita berhenti, perjalanan emang tersendat karena saking gelapnya dan kita ngga’ nyalain senter atau obor. Ratna berjalan paling depan karena dia yang paling hafal jalan setapaknya, sedang aku berjalan paling belakang. Sampe dekat tebing yang cukup tinggi kita tidak dapat meneruskan perjalanan dan di sisi kanan kita sungainya cukup dalam… jadi kita berbelok ke kiri… jalannya sedikit nanjak…
“Bli… di depan ini rumahnya orang bule… cowocnya temen kita, dia guide… kita intip yuk” ajak Ratna.
“Ayuk… kamu duluan Gek…”
Pas sampe dekat rumah itu, kami lihat ada sinar dikit di ruang tengah… aku coba dekatin jendela untuk melihat lebih jelas ke dalam. Tampak ruangan kosong saja…
Wian tampak menjentikkan jarinya dan melambaikan tangan… rupanya dia udah dapat yang kita cari… dari celah korden mereka mengintip dalam ruangan yang rada gelap. Di dalam tampak pria dengan badan tegap, berkulit hitam legam dan rambut acak model Bob Marley… warna rada pirang campur belang2, butut banget pokoknya… dan cewecnya hanya kelihatan sedikit… rambutnya cepak… orangnya masih muda kelihatannya… kurus dan kakinya tampak panjang… mereka bertelanjang total… dan si pria menindih tubuh si bule cewec… karena agak susah mengintip aku pindah lokasi ke lobang angin2… dengan manjat kursi rotan aku berhasil mendapat posisi baik. Sementara mereka berlima masih bergerombol dekat jendela samping rumah… lalu aku panggil Rani… dia ikut manjat di kursi lalu aku peluk pinggangnya supaya dia tidak oleng… kita ngintip bareng…
Pria itu tampak bangun dari posisinya dan kini dia mainkan posisi 69… pada saat dia pindah posisi… aku dapat melihat sedikit wajahnya karena dia menghadap ke arahku dan sinar lilin di kamar itu cukup untuk menerangi wajah jeleknya… shit… itu khan Komang… temenku dulu yang di Kuta waktu aku ngegembel jadi cowoc pantai sama dia dan Agung… kok badannya jadi gede gitu… rambutnya dulu emang panjang tapi ngga’ gembel kaya’ Bob Marley gitu… ach… waktu telah merubahnya… demikian pikirku.
Aku diam saja dan perhatian apa yang Komang lakukan dengan pacar bulenya itu… tampak dia memulai permainan dengan jari2nya yang segede pisang… dia kutik2 selangkangan bule itu tapi sayang aku ngga’ dapat melihat detailnya karena posisinya cukup gelap terhalang paha si bule.
“Ran… itu cowocnya gua kenal…” bisikku pada Rani.
Dia tidak menjawab hanya menoleh dan tersenyum… manis sekali… lalu kembali ngintip.
Aku mulai mencium tengkuk Rani dan meraba toketnya yang super besar itu… sejenak aku mulai mendengar nafas rani agak memburu dan aku coba intip permainan di dalam kamar… ternyata Komang telah menyarangkan meriamnya yang besar dan hitam itu ke sasarannya… dia pompa dengan keras… tampak jari2 si bule itu menancap di punggung Komang… kemudian Komang bangkit dengan posisi berdiri dia gendong bule itu dan disandarkannya di dinding… persisi samping jendela tempat temen2 ngintip… perpindahan gaya itu sama sekali tidak melepas meriam Komang dari liang si bule… si bule itu menjepitkan kakinya yang jenjang ke pinggang Komang sedang dua tangan Komang masuk ke sela-sela ketiak dan menahan di pundak si bule…
Posisiku yang ngintip dari belakang rumah dapat melihat bagaimana Komang dengan rajinnya menghunjam si bule…tapi posisi Wian lebih pas… karena lebih dekat… sepertinya mereka tidak dapat melihat si cewec bule itu dengan jelas karena terhalang korden.
Aku turun dari kursi dan mulai menyingkap rok Rani…. aku elus pahanya… naik ke CDnya… dan aku sibak CDnya… aku angkat sebelah kaki Rani ke sandaran kursi itu dan memasukkan kepalaku di antara kedua paha Rani… aku mulai menjilati kacang Rani… wow rasanya enak dan gurih… bahkan lebih enak dari kacang Rahayu… (kacang khas Bali).
Jilatanku makin cepat dan kini pinggul Rani ikut bergoyang maju mundur…. tak lama kemudian kakinya mulai mengejang kaku… pahanya menjepit kepalaku… dan diapun berjongkok…. di depanku…
“Bang… keluarnya pas sama mereka selesai…” bisiknya.
“Mereka udahan?” tanyaku.
“Entahlah? Tapi aku tadi lihat temen Abang nancepin dalem2 sepertinya dia keluar udahan” sahut Rani tetap berbisik.
Aku berdiri dan mengintip ke dalam… ternyata Komang sedang duduk di pinggir ranjang dan cewec bulenya sedang menghisap bersih sisa sperma komang yang meleleh… aku merasa meriamku mulai diraba oleh Rani dan sejurus kemudian meriamku telah keluar dari sarangnya dan bersarang dalam mulut Rani… sebentar saja meriamku sudah pada posisi siaga penuh.
“Ran… gua ngga’ kuat ni… pengen keluar…”
“Bang… masukkin aja dulu ke anak2 tuh” jawabnya sambil menunjuk ke anak2 yang sedang ngegerombol di jendela.
Lalu aku turun dari kursi itu dan menghampiri Resti… aku elus pinggul dan pantat Resti yang sedang ngintip dengan posisi nungging itu. Aku elus juga pinggulnya, trus merambat ke dadanya…. dia masih diem aja, tetap konsentrasi pada target intipan. Satu dua jenak kemudian mulai ada reaksi nafas memburu… dan dia noleh sebentar lalu asyik balik lagi ngintip… ach cuek aja… lalu aku telusuri bagian depan celananya dan aku cari zippernya dan dapat… aku tarik zipper itu dan juga kaitnya sehingga dengan mudah aku dapat meloloskan celana panjang resti dan kini tinggal CDnya yang masih menghalang. Aku tarik langsung CD itu dan aku berjongkok pas di belakangnya, aku sibak sedikit gumpalan pantatnya… lalu aku jilat2 sekian jenak… daerah kemaluannya, lobang pantatnya… sementara Rani memainkan meriamku dari belakang dia terus meremas kadang diselingi dengan hisapan mautnya… lalu dia berbisik “Bang udah sikat aja”.
Aku bangkit lalu aku arahkan meriam Jagurku pada selangkangan Resti tanpa tunggu lebih lama lagi… aku kuak sedikit liangnya dan mulai aku benamkan meriam kesayanganku… setelah masuk semuanya karena emang udah basah… jadi lebih gampang dan aku mulai mengayun dengan irama lokomotif… beberapa menit aku tetap saja dengan gaya dan alunan goyang yang sama… lalu aku mulai sedikit putar…. seperti mengorek gigi…
“Hek… ach…” desah Resti… Vina menoleh ke arah kami sebentar lalu memalingkan wajahnya lagi dan kembali mengintip…
Kakiku digeser oleh Rani untuk lebih lebar dan dia menjilat bijiku dari bawah… wah nikmat sekali… setiap goyangan mendatangkan nikmat yang berbeda… terkadang Rani pindah menjilat kacang Resti… dengusan dan irama nafas Resti makin memburu dan diapun mengejang… “Sodok daleman donk…” dan akupun menuruti dengan sodokan lebih keras sehingga aku lupa kalo dia itu menghadap kaca jendela.
“BRAA…AK” suara pundak dan kepala Resti nabrak jendela tempat mereka ngintip. “Sssssttt…” semua yang di situ menyuruh aku dan Resti untuk lebih tenang, tapi waktu mereka balik mengintip, ternyata orang yang mereka intip sudah tidak ada di kamar.
Tiba-tiba muncul Komang bersama cewec bulenya dengan berbalut ala kadarnya dari arah belakang rumah. “Mau apa kalian gerombol di sini?” bentaknya, karena dia tidak dapat melihat dengan jelas hanya tampak olehnya gerombolan orang di samping rumah yang gelap… dia juga ngga’ tau kalo aku dan Resti sedang dalam keadaan acak2an. Dia datang menghampiri kami dan semua rombangan kami pada diam ketakutan, mereka nggak nyangka akan tertangkap basah saat ngintip. Begitu dekat pada kami tampak sekali bahwa Komang belum dapat menguasai keadaan, matanya masih sulit melihat wajah kami, malam itu emang gelap sekali. “Mang, ini aku Jossy…” kataku sebelum terjadi masalah lebih gawat, karena aku takut Komang main pukul aja karena dikira maling atau apa.
“Jossy… yang bener, Jossy siapa?” tanya Komang masih bingung.
“Aku baru dateng beberapa hari di sini Mang” kataku lagi.
Rupanya dia mulai ingat dan mengajak kami masuk ke rumahnya… sambil jalan aku rapikan pakaianku, demikian juga dengan yang lain… tadinya udah pada kacau semua… pakaian udah nggak pada bener.
Masuk ke ruang belakang di mana ada sedikit sinar, Komang mulai dapat melihat wajahku dengan lebih jelas. Lalu dia memelukku, kemudian kita saling mengenalkan teman2. Komang sempat nanya juga lagi ngapain aku dan temen2 malem itu, dan akhirnya aku jawab juga kalo kami sedang ngintip mereka main. Dan Komang dengan segera menawarkan main rame2 karena dia juga melihat cewec2 yang aku ajak rata2 oke punya. Pas dia ngelihat Ratna, dia kaget banget, karena dia kenal banget sama Ratna. Saat mata mereka beradu aku dapat melihat wajah Ratna yang merah padam walau dalam kegelapan dengan bantuan sedikit sinar tampak sekali bahwa dia sangat malu.
Kami masuk ke dalam kamar yang sama dengan yang kami intip tadi, lalu dengan selimut kami tutupi semua lobang di mana tadi kami bisa ngintip, takut ada yang ngintip kita dan jadi makin repot.
Ratna dan rani duduk bersandar di dinding, sementara Wian dan Vina di sebelahnya sambil berpelukan, si bule duduk di pinggir ranjang den telah membuka pakaiannya. “Mang… pacuan lagi yuk kaya’ dulu” ajakku.
“Ayo Joss”
Lalu kami sama2 menerangkan pada pasangan masing2 untuk ambil posisi, sebenarnya gayanya adalah doggy style tapi bersebelahan dan permainan ini ada unsur fightnya, cowocnya harus bisa tahan lama dan dapat bikin cewecnya orgasme beberapa kali dan pada posisi cewecnya adalah dengan segala cara mereka harus bisa menumbangkan cowocnya sesegera mungkin, jadi nanti akan keluar pemenang cewec dan pemenang cowoc, lalu pemenang cewec boleh main dengan pemenang cowoc dan yang kalah harus ngaso. Keuntungannya adalah pemenang dapat merasakan pasangan lawannya.
Setelah Resti dan si bule ambil posisi merangkak di atas kasur… aku dan Komang bersiap dari arah belakang. Mula2 aku ukul2kan meriamku ke pantat Resti dan setelah agak bangun dengan bantuan tanganku aku gesek2kan ke bibir vaginanya… pas aku sudah siap, aku nengok ke Komang “Udah siap Mang?” tanyaku.
“Ayo udah siap…”
Secara bersamaan kita memasukkan meriam masing2 ke arena pertempuran dan sama2 mulai menggoyang dengan jurus2 andalan masing2. Aku berpengangan pada pantat Resti dan tiba2 aku merasakan putaran pantatnya yang nikmat sekali, untuk mengimbanginya aku harus memainkan jurus putar… emang lebih sulit main jurus putar pada doggy style… rupanya serangan Resti makin gila… wah kaya’nya Resti pengen menang pertandingan dan pengen nyobain barangnya komang… yang dia intip tadi dan kelihatan gede banget. Sementara aku lihat Komang dengan memegang dada si bule itu dan mengayun dengan irama keras. Si bule juga ngga’ mau kalah dia ikut maju mundurin pinggulnya… tangan Komang yang kiri diletakkan di atas punggul si bule dan tangan kanannya masih meremas dada si bule, dari posisiku aku dapat melihat dadanya lumayan besar dan kencang…. wah… aku mesti menang untuk bisa ngerasain main ama nih bule.
Aku putar lebih keras dan aku coba untuk membungkuk… lalu aku cium pundak Resti perlahan… diapun mendesah lalu aku tekan lebih kuat lagi hingga posisinya kini nyaris tidur tengkurap, hanya saja pantatnya masih nungging sehingga tidak menyulitkan aku untuk menusuknya, kedua tanganku aku susupkan untuk meremas dadanya… acchh…aarrgh… Resti mulai mengerang… pertanda seranganku mengena… aku teruskan dengan jurus yang sama tapi makin kupergencar serangan di dadanya serta ciuman di pundak dan belakang telinganya. Tak lama kemudian Resti tampak mengejang… belum habis erangan Resti tiba2 disusul oleh erangan si bule itu… rupanya 1 sama scoreku dengan Komang. Lalu aku tarik pinggul Resti untuk lebih ngungging dan kepalanya masih tetap rata dengan kasur, berpegangan pinggulnya aku mulai serangan maju mundur dengan keras dan cepat… sesekali aku selingi dengan menancapkan meriam kesayanganku dalam2 dan memutarnya di dalam… orgasme Resti yang kedua telah menyusul. Sementara aku lihat si bule mencontoh gaya Resti tapi tangan kanannya digunakan untuk menggapai dan mempermainkan biji Komang… diselingi oleh erangan manja penuh nikmat dan gayanya seakan benar2 menikmati permainnya yang tiada duanya. Wajahnya menoleh ke Resti dan Komang makin nafsu menyerangnya. Gaya si bule ini emang sangat merangsang pada saat dia mengalalmi orgasme… erangannya panjang sekali… juga Komang seakan tidak ingin menghentikan serangannya dan ingin bikin rekor orgasme terpanjang kali. Score saat ini 2 sama… tapi Komang ingi bikin sensasi atau orgasme beruntun aku nggak jelas… tapi ngelihat gayanya yang masih konstan menyarangkan meriamnya ke liang si bule ini… sambil matanya terpejam… tiba2 diapun ikut mengejang dan ditancapkannya dalam2… didorongnya kuat sampe si bule terjatuh rata dengan kasur.
Saat melihat Komang roboh aku langsung sadar bahwa sebentar lagi aku dapat menikmati cewecnya. Tapi tugasku pada Resti aku selesaikan dulu… dan karena pertandingan sudah usai, maka kami boleh ganti gaya lain selain doggy style, kali ini aku minta Resti untuk tidur miring dengan kaki rada silang aku tidak perlu mencabut meriamku dan gaya ini masih mirip dengan doggy style tapi aku merasakan jepitan Resti makin rapet. Aku serang terus dengan putaran2 maut… aku ingin segera memberikan gol yang indah buat Resti beristirahat. Aku lihjat Resti menggelepar penuh nikmat saat aku sendiri sebetulnya sudah hampir tidak kuat, kalo tidak sedang pertandingan kali udah aku lakukan bongkar muat ini… tapi karena ingin ngerasain barangnya bule… maka aku hentikan serangan yang penting Resti puas dan aku masih belum keluar. Aku tancapkan dalam2 supaya Resti dapat menikmati ganjalan meriamku di dalamnya.
Sambil menanti turunnya temperatur nafsuku yang hampir puncaknya… aku elus dan ciumin Resti ini bagian dari cooling down untuk Resti dan diapun tersenyum manis sekali… aku telah menghadiahkan nikmat malam ini. Lalu aku cabut meriamku dan disambut oleh si bule… yang kutahu namanya setelah permainan dengannya usai. Jadi tadi saat kenalan aku nggak jelas namanya siapa… karena Komang menyebutnya perlahan… lagian saat itu aku kurang konsen. Namanya Joan… lengkapnya sebodo… EGP.
Joan langsung memegang meriamku yang masih tegang dan mulai menjilatnya perlahan dari ujung dan lidahnya berputar di kepala jamurku.Lalu aku pindah posisi saat Komang berdiri dan keluar kamar. Aku tiduran di samping Resti dan Resti rebah di dadaku… sedang Joan kembali menjilati meriamku, dia menjilat dari biji… terus naik ke mushroom, lalu berputar di mushroom baru kemudian dikulumnya. Jangkauan mulutnya cukup baik aku rasakan karena selama ini aku baru lihat orang dapat memasukkan meriamku sampai setengah bagian pas… biasanya masih kurang dari itu… perlahan dia masukkan lebih dalam lagi dan kali ini dia melepas tangannya…. dengan kepalanya mengangguk-angguk… meriamku keluar masuk mulutnya yang memiliki bibir mungil. Saat dia mengangguk-angguk… aku lihat dadanya berayun-ayun indah sekali… ingin rasanya menggapainya tapi tangganku nggak sampai karena Joan berada di atas kakiku. Dia lepas kulumannya dan kembali menjilati dari biji sampe ke mushroomku… kembali naik dan turun… jari2nya tidak menggenggam meriamku tapi hanya sedikit menahannya… sesekali diselinginya dengan menjilat berputar perlahan di seputaran bijiku… rasanya nikmat sekali… karena bosan diam saja… aku pindah posisi untuk main segitiga dengan Resti dan Joan… jadi Joan masih menghisap meriamku, Resti menjilati dan kadang menusukkan jarinya ke liang Joan dan aku memainkan liang Resti… karena ranjang itu tidak terlalu besar jadi rada sempit juga. Setelah puas dengan permainan ini lalu Joan bangkit dan mulai menunggangiku… sedang Resti tetap pada posisinya… permainan baru saja mulai ketika secara mendadak Vina ikut bergabung dan menyodorkan dadanya untuk kujilati… sebenta kemudian pakaiannya sudah lolos semua dan diapun bugil. Vina lalu menaikiku dan menyodorkan liangnya untuk kujilati… rada susah juga aku dengan posisi ini hampir sulit bernafas. Sementara meriamku bekerja untuk Joan, jari kiriku untuk Resti dan lidahku asyik menari dibelahan bibir kenikmatan Vina. Yang masih nganggur hanya jari kananku saat itu… dan aku gunakan untuk meremas dada Vina…
Saat rangsangan yang aku rasakan di meriamku makin keras, usahaku terhadap Resti maupun Vina juga makin gencar… Joan melenguh keras sambil menancapkan dalam2 dan masih memutarnya perlahan dengan penuh tekanan…. tangannya berpegangan pada pundak Vina… aku pilin puting Vina dan aku sedot kuat2 biji kacangnya…. Vinapun melenguh nggak lama kemudian… Resti masih belum sempat aku selesaikan saat wian meminta bagian untuk menuntaskan Resti.
Komang yang masuk kamar denagn membawa minuman keras import di genggaman tangannya… dan dengan langkah sedikit terhuyung dia menghampiri Vina dan mulai merabai Vina. Akupun bangkin untuk memberikan tempat buat Komang dan yang lain… sedang aku pindah tiduran di lantai di atas pangkuan Ratna. Rani mengelus lembut rambutku dan menciumiku. “Bang istirahat dulu nanti kecapaian” katanya. Dan akupun mencoba memejamkan mataku.

Followers

Sponsored by